“Pantai Kuta Kena Black Campaign”. Begitulah judul berita di koran Radar Bali hari ini (24/5/2014). Judul yang langsung menarik perhatian saya untuk membaca lebih lanjut. Mengutip situs Yahoo, koran milik Jawa Pos Group ini memberitakan kalau Pantai Kuta termasuk salah satu dari sepuluh pantai di dunia yang direkomendasikan untuk tidak dikunjungi wisatawan. Mengapa?

 

Mengutip Yahoo Indonesia, berikut alasan yang dikemukakan penulisnya:

 

“Tempat ini memang surganya berselancar, namun Pantai Kuta bukanlah pantai sempurna seperti dalam benak Anda. Pesatnya pembangunan wilayah pesisir di pantai itu, ditambah dengan sistem pengelolaan sampah yang kurang memadai, mengakibatkan sejumlah besar sampah terdampar di Kuta setiap hari. Foto mengenai pantai ini bisa sangat menipu, jadi penting untuk mengupas lebih dalam soal Kuta untuk melihat kenyataan sebenarnya.”

 

Pemberitaan negatif ini, mendapat kecaman dari Pemda Badung. “Terima kasih untuk Yahoo yang sudah memuat berita tersebut. Tapi, menurut kami orang yang bilang Pantai Kuta tidak layak dikunjungi itu syirik saja,” ketus Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanaan Kabupaten Badung, Putu Merthawan.

 

Tak kalah sengitnya adalah komentar IGN Ray Suryawijaya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung. Ia menuduh pemberitaan tersebut sebagai black campaign dalam dunia parawisata Bali. “Bali itu selalu diintip oleh pihak asing,” tambahnya.

 

Apakah memang ada yang salah dalam pemberitaan Yahoo tersebut? Coba baca lagi dengan cermat kutipan di atas. Pada bagian terakhir ada catatan: Foto mengenai pantai ini bisa sangat menipu, jadi penting untuk mengupas lebih dalam soal Kuta untuk melihat kenyataan sebenarnya.

 

Sang penulis, yang saya tidak bisa temukan namanya di laman Yahoo, sendiri sebenarnya kurang yakin apakah memang benar setiap hari sebegitu banyaknya sampah di Pantai Kuta. Bisa jadi, ketika dia berkunjung ke Kuta, melihat pandangan tak sedap tersebut. Atau hanya karena dia membaca berita di berbagai media tentang kondisi Pantai Kuta yang diselimuti sampah.

 

Adanya catatan khusus di atas, sebenarnya, sudah menunjukkan kehati-hatian penulis. Sikap yang tidak mendapat apresiasi yang layak dari Pemkab Badung, seperti terlihat dari komentar yang dikutip Radar di atas. Terlalu mudah kebakaran jenggot tanpa menelisik lebih jauh.

 

* * *

 

Pantai Kuta diserang sampah sudah menjadi ritual tahunan. Biasanya dimulai di pertengahan bulan Desember dan berakhir di awal Maret tahun selanjutunya. Namun hingga kini, tak ada langkah kongkrit dari Pemkab untuk mengatasinya. Seakan-akan berserah kepada nasib saja. Bahkan upaya untuk segera membersihkan sampah setiap kali terhempas ke pantai pun tak dilakuan.

 

Sekali waktu, saya mempertanyakan hal ini kepada teman pemilik bar pinggir pantai di Double Six, tempat saya biasa nge-sunset. Menurutnya, penumpukan sampah berlebihan tersebut dimulai ketika terjadi pergantian pengurus Pantai Kuta. “Pengurus sekarang malas kerjanya,” ujar sang teman, yang rambut keriting panjangnya selalu dibiarkan terurai.

 

Dahulu, setiap  pagi dan sore, sampah-sampah yang terdampar tersebut akan segera dibersihkan. Truk-truk penampungnya pun sudah ada. Sekarang, hanya sekali sehari saja. Itu pun belum tentu. Terkadang dibiarkan saja berhari-hari, menunggu petugas dari Pemkab datang.

 

Saya pribadi tidak menyalahkan Yahoo ketika menjadikan Pantai Kuta sebagai satu dari sepuluh pantai di dunia yang tidak direkomendasikan untuk dikunjungi. Selain masalah sampah, pantai yang disenangi para peselancar ini juga menyimpan sisi-sisi negatif yang lain. Lihat saja para pedagang yang seenaknya saja menghamparkan dagangannya. Atau pedagang mainan yang suka memaksakan kehendak kepada pengunjung. Begitu pula ibu-ibu tukang pijat, yang biarpun sudah berkali-kali ditolak, tetap saja ngotot menawarkan jasanya. Pantai Kuta sudah begitu sembrawutnya, sumpek di mata.

 

Ya, Pantai Kuta telah salah urus. Para pengurus pantai sepertinya lebih memikirkan pemasukan dari iuran pedagang. Mereka akan dengan senang hati mengeluarkan kartu tanda izin berdagang di pantai tanpa memikirkan kenyamanan pengunjung. Sebaliknya, mereka akan bertangan besi ketika ketahuan ada pedagang tak resmi atau ketika pedagang resmi terlambat membayar iuran.

 

Pengalaman tidak mengenakkan setiap kali mengunjungi pantai ini,  membuat saya tidak  pernah merekomendasikanmya ke teman yang berkunjung ke Bali. Saya akan selalu mengajak teman ke Double Six, Seminyak. Pantai lebih landai dan lebih nyaman. Sangat-sangat jarang saya bertemu dengan pedagang yang memaksa pengunjung membeli dagangannya. Para pemilik bar pinggir pantainya pun lebih ramah. (*)