Bali, selain memiliki kekayaan panorama alam yang indah, juga sangat kaya dengan adat-budaya serta ritual yang merupakan hasil akulturasi berabad-abad antara agama mayoritas yang dipeluk orang Bali yaitu Hindu dengan budaya yang telah terbentuk turun-temurun sebelum masuknya agama Hindu tersebut ke Bali. Salah satunya yang sudah banyak diketahui adalah Upacara Ngaben.

Upacara Ngaben merupakan upacara pembakaran jenazah atau kremasi yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Bali jikalau sanak-keluarga mereka meninggal dunia. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali, upacara Ngaben ini pada hakikatnya adalah untuk upacara penyucian roh (atma) saat meninggalkan badan kasar. Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa manusia dilahirkan ke dunia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Dan apabila seseorang meninggal, yang mati sesungguhnya hanya badan kasarnya saja sedangkan badan halusnya (roh atau atmanya) tidak. Badan halus ini dipercayai akan melakukan kelahiran kembali dengan wujud badan kasar yang lain untuk menebus dosa-dosanya yang masih belum habis di tebus. Nah, untuk mempercepat proses pengembalian badan kasarnya ke unsur-unsur yang ada di alam sekaligus untuk proses penyuciannya diadakanlah upacara Ngaben.

Pada umumnya hampir seluruh daerah di Bali, dalam Upacara Ngaben, jenazah akan dibakar hingga hanya tersisa abunya saja kemudian abu tersebut akan dihanyutkan ke laut. Namun, ada suatu tradisi unik yang dapat dijumpai di salah satu desa di Bali, yaitu upacara Ngaben tanpa menggunakan Api.

Wah bagaimana bisa?

Di salah satu desa adat di daerah Bali Selatan tepatnya Desa Adat Pecatu yang terletak di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, masyarakatnya mempunyai keunikan tersendiri dalam melaksanakan Upacara Ngaben yaitu tanpa menggunakan Api. Upacara Ngaben tersebut disebut dengan Upacara Ngaben Sawa Pranawa. Dalam upacara ini, proses pembakaran jenazah tidak menggunakan Api secara nyata (Skala) namun ”dibakar” menggunakan Api tidak nyata (Niskala) yang merupakan perwujudan mantra dan doa dari orang suci (sulinggih) yang memimpin upacara tersebut. Setelah prosesi ini, maka jenazah yang bersangkutan akan dikubur tanpa menggunakan nisan dan dianggap yang bersangkutan sudah di Aben.

undefined

Kemudian akan muncul pertanyaan, mengapa upacara Ngaben di Desa Adat Pecatu berbeda dengan upacara Ngaben pada umumnya di Bali? Kembali disinilah salah satu keunikan Bali itu sendiri. Dalam melaksanakan upacara ritual adat dan keagamaan, masyarakat Hindu di Bali mengenal istilah Desa, Kala dan Patra. Desa berarti tempat di mana kita akan melaksanakan upacara tersebut, Kala berarti waktu atau kapan upacara ritual tersebut akan diselenggarakan dan Patra berarti kondisi atau situasi ketika upacara ritual tersebut akan diselenggarakan. Hal ini juga berlaku untuk upacara Ngaben di Desa adat Pecatu.

Di dalam lingkungan wilayah Desa Adat Pecatu, terdapat salah satu Pura yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu Bali yaitu Pura Luhur Uluwatu. Masyarakat desa Pecatu percaya bahwa apabila dilakukan pembakaran jenazah seperti pada umumnya, abu-abu sisa pembakaran dapat tertiup dan terbawa angin hingga jatuh di lingkungan Pura Luhur Uluwatu sehingga dapat mengotori kesucian Pura tersebut. Itulah mengapa upacara Ngaben di desa Pecatu tidak seperti upacara Ngaben pada umumnya.

Kemudian timbul pertanyaan, apakah dengan tatacara pelaksanaan Ngaben yang unik ini, makna dari upacara Ngaben tersebut akan berbeda ketika dilaksanaakan dengan cara yang berbeda seperti halnya di Desa Adat Pecatu ini?

Menurut Wiana (2004:25-26), kata Ngaben sesungguhnya berasal dari bahasa Bali yang bermakna ”Api” sehingga upacara Ngaben disini dapat diartikan upacara menuju Api. Adapun yang dimaksud api di sini adalah sang Pencipta itu sendiri yang mana menurut kepercayaan Hindu di Bali sang pencipta tersebut adalah manifestasi Tuhan dalam wujud Dewa Brahma. Sehingga diharapkan atma yang badan kasarnya telah disucikan dengan api dapat menuju tempat sang pencipta, terlepas dari wujud api itu sendiri, nyata atau tidak.

Begitulah masyarakat Desa Adat Pecatu melaksanakan dan memaknai upacara Ngaben. Upacara perpisahan badan kasar dengan badan halus yang dilaksanakan dengan api, akan tetapi dilaksanakan tanpa api.

 

Referensi :

http://sukasukanulis23.blogspot.com/ (Upacara Ngaben Sawa Pranawa Di Desa Adat Pecatu (Kajian Filosofi))

http://cintanegeri.com/makna-dan-asal-usul-tradisi-upacara-ngaben-di-bali/