Pulau Bali yang dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Dewa, Pulau Seribu Pura, dan tentunya Pulau Dewata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik kini berubah menjadi tempat penampungan sampah dunia. Hal itu tercermin dari peningkatan masuknya wisatawan maupun pendatang yang menetap di Bali serta dibarengi oleh ketidakpedulian masyarakat Bali sendiri terhadap masalah sampah. Bisa kita bayangkan setiap harinya di Bali memproduksi sampah 1.000 ton (Bali Post, 17 Juli 2015,Hal.5), hal itu berdampak buruk terhadap lingkungan Bali.

Sempitnya lahan dan membludaknya penduduk serta kaum urban yang datang ke Bali sedikit banyak mempengaruhi lingkungan Bali itu sendiri. Banyak lahan produktif kini dialihfungsikan menjadi lahan perumahan yang notabene berdampak pada tata ruang terbuka hijau.

Kepedulian masyarakat Bali pada khususnya mengenai sampah sangat minim. Bahkan didaerah Kuta, Seminyak, Legian dan Jimbaran yang dibilang surganya pariwisata daerah Bali Selatan kini telah beralih nama menjadi surganya sampah. Tidak heran jika banyak wisatawan asing yang tergerak hatinya, menginginkan Bali tetap hijau, Bali tetap asri, Bali tetap bersih membentuk suatu organisasi yang khusus menangani sampah dikawasan Bali Selatan. Para turis mancanegara secara serempak dan berbaris rapi dengan membawa sebuah kampil/tempat sampah ditangan kirinya masing-masing merunduk berjalan beriringan memungut sampah dari jalan ke jalan, gang ke gang.

Melihat hal itu, kita pribadi sebagai penduduk asli Bali seharusnya memiliki rasa malu terhadap pemandangan wisatawan asing yang begitu peduli terhadap lingkungan Bali. Kita hanya bisa berkampanye “Go Green”, gencar mempromosikan pariwisata Bali, apa ini hanya sekadar wacana? Tanpa ada tindakan konkrit dari diri kita sendiri yang mengaku masyarakat Bali tulen.

Bisa kita bayangkan 10 tahun kedepan, Bali akan benar-benar menjadi lumbung sampah, jika dari individu kita sendiri tidak memiliki respon dan respect terhadap permasalahan  ini. Keturunan kita, anak cucu kita, kita bekali dengan sampah. Kepedulian ini harus kita tumbuhkan sebelum hal yang membuat Bali rusak benar-benar terjadi.

Kita memulai jangan ke hal yang besar dulu, kita mulai dari hal kecil didalam rumah kita sendiri. Buanglah sampah pada tempatnya, pilahlah sampah menurut sampah organik maupun anorganik, apa guna jargon/slogan Go Green bila kita tidak mengetahui makna yang tersirat dari slogan itu sendiri. Kehidupan sosial di masyarakat Bali khususnya seharusnya dibarengi oleh saling mengingatkan akan dampak sampah dan cara penanganannya. Disinalah diperlukan peran pemerintah daerah hingga ke pusat juga seluruh warga masyarakat untuk benar-benar fokus untuk mempedulikan permasalahan sampah yang tidak ada habisnya.

 

Sumber : Bali Post, 17 Juli 2015,Hal.5